Akselerasi Kesehatan Global: Institut Mahardika Sukses Gelar Gelombang Kedua Konferensi Internasional Kesehatan Digital dan Pemberdayaan Masyarakat
CIREBON- Institut Mahardika kembali mengukuhkan eksistensinya di kancah akademik internasional dengan sukses menyelenggarakan agenda prestisius, The 2nd International Conference on Digital Health and Community Empowerment. Mengusung tema utama yang sangat krusial di era pasca-pandemi, konferensi ini memfokuskan pembahasannya pada integrasi mutakhir antara inovasi teknologi dan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.
Rektor Institut Mahardika, Dr. Hj. Yani Kamasturyani, S.K.M., M.H.Kes., menegaskan bahwa pemilihan tema ini bukanlah sekadar formalitas akademik, melainkan sebuah respons strategis terhadap dinamika zaman. Menurutnya, sinergi antara dunia digital dan sektor kesehatan saat ini telah bertransformasi menjadi sebuah kebutuhan mutlak yang mendasar bagi dunia pendidikan tinggi maupun praktisi medis global.
"Tema ini adalah kompas masa depan kita. Penggabungan antara teknologi digital dan kesehatan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mutlak. Bagi Institut Mahardika, tema ini mengarahkan kurikulum akademis kita agar selalu relevan dengan industri modern, sekaligus memastikan pengabdian masyarakat kita lebih presisi, berdampak luas, dan berbasis data (data-driven)," ujar Dr. Hj. Yani Kamasturyani dalam sambutan resminya.
Penyelenggaraan tahun kedua ini dinilai menjadi lompatan besar bagi reputasi institusi. Dr. Hj. Yani Kamasturyani menambahkan bahwa konferensi berskala internasional seperti ini secara nyata menaikkan posisi tawar (bargaining position) Institut Mahardika di level global. Forum ini bertindak sebagai panggung strategis untuk menunjukkan bahwa pemikiran ilmiah serta riset dari jajaran dosen lokal telah sejajar dengan pakar global, sekaligus membuka peluang kolaborasi riset, pertukaran pelajar, hingga publikasi jurnal bereputasi internasional.
Pihak Rektorat pun memastikan hasil-hasil seminar ini tidak akan berakhir sebagai dokumen pasif di menara gading. Komitmen penuh diwujudkan melalui tiga langkah taktis yang siap dijalankan secara simultan: penguatan regulasi, penyediaan pendanaan riset lanjutan, serta perluasan kemitraan makro. Rekomendasi dari konferensi ini akan diintegrasikan menjadi cetak biru (blueprint) pengabdian masyarakat institusi, serta mendorong hilirisasi riset dosen dan mahasiswa agar bisa langsung diadopsi oleh masyarakat atau industri kesehatan.
Guna membedah digitalisasi kesehatan dari berbagai perspektif makro, konferensi internasional ini menghadirkan tiga narasumber utama (keynote speakers) terkemuka:
Erix Gunawan, A.Md.Perkes., S.ST., M.M.R.S. dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, yang memaparkan arah kebijakan regional dan implementasi integrasi sistem data kesehatan di tataran pelayanan publik.
dr. Hermawan Saputra, S.K.M., M.A.R.S., C.I.C.S. dari Universitas Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), yang mengulas analisis strategis manajemen kesehatan masyarakat serta tantangan adopsi teknologi pasca-pandemi.
Jerico Franciscus Pardosi, Ph.D. dari Queensland University of Technology (QUT), Australia, yang membawa perspektif global mengenai inovasi digital health, riset interdisipliner, dan pemberdayaan komunitas skala internasional.
Di sisi lain, Ketua Panitia Pelaksana, Ns. Endah Sari Purbaningsih, S.Kep., M.Kep., mengungkapkan bahwa konferensi tahun ini mencatatkan peningkatan performa yang sangat signifikan bila dibandingkan dengan gelaran perdana. Peningkatan tersebut terlihat jelas dari perluasan skala pelaksanaan dan kualitas riset yang disajikan.
"Peningkatan paling terasa ada pada skala pelaksanaan dan kualitas riset. Tahun ini, jumlah peserta meningkat signifikan, cakupan institusi pembicara lebih global, dan sistem integrasi teknologi untuk peserta daring jauh lebih stabil dan interaktif dibanding konferensi pertama," papar Ns. Endah Sari Purbaningsih saat memberikan keterangan evaluasi teknisnya.
Antusiasme peserta pun terpantau luar biasa tinggi, baik yang hadir secara langsung di lokasi (luring) maupun daring. Peserta luring sangat aktif dalam sesi tanya jawab dan jejaring, sementara peserta daring konsisten menyimak hingga akhir acara. Tingginya mutu pelaksanaan ini turut diamini langsung oleh para peserta yang hadir.
Salah satu peserta, Fadelia Viola, mengungkapkan ketertarikannya bergabung karena tema yang diusung sangat relevan dengan fokus riset yang sedang ia dalami, yaitu integrasi teknologi digital dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
"Selain itu, konferensi internasional ini menjadi platform yang strategis untuk mempresentasikan hasil penelitian saya, mendapatkan masukan kritis dari para ahli, sekaligus memperluas kontribusi ilmiah di tingkat global," kata Fadelia.
Manfaat konkret dari segi jejaring juga dirasakan nyata oleh peserta lainnya, Septhian Pangestu. Melalui sesi diskusi kelompok dan networking, ia mengaku berhasil bertukar ide dengan peneliti dari instansi lain yang memiliki fokus riset serupa.
"Konferensi ini membuka ruang komunikasi yang sangat baik, sehingga kami bisa merencanakan kolaborasi riset interdisipliner di masa mendatang untuk memperkaya perspektif ilmiah kami," tutur Septhian.
Apresiasi terhadap performa panitia pelaksana juga datang dari Nurul, seorang peserta yang menyoroti tiga aspek keunggulan jalannya acara. Menurut Nurul, rangkaian agenda tersusun dengan rapi, sangat interaktif, dan tepat waktu dari awal hingga akhir. Ia juga memuji fasilitas yang sangat mendukung dan memadai, baik dari segi teknis, ruang presentasi, maupun kenyamanan peserta selama acara berlangsung.
"Kualitas diskusinya luar biasa dan berbobot. Para pembicara menyampaikan materi yang sangat mutakhir (up-to-date), serta sangat terbuka dalam sesi tanya jawab sehingga memberikan banyak wawasan baru bagi saya," tambah Nurul mengenai pengalamannya.
Berdasarkan laporan kompilasi panitia, tren teknologi kesehatan digital yang paling mendominasi riset tahun ini meliputi tiga sektor utama: pemanfaatan AI (Kecerdasan Buatan) untuk sistem diagnosis dini penyakit, pengembangan sistem telemedicine yang terintegrasi, serta pengelolaan data kesehatan berbasis cloud pasca-pandemi demi efisiensi layanan. Banyak peneliti tahun ini menitikberatkan fokus pada efisiensi layanan kesehatan transisi pasca-pandemi.
Kendati mendulang sukses besar, panitia tidak menampik adanya tantangan teknis yang cukup berat di lapangan, khususnya terkait manajemen koordinasi hibrida (hybrid management). Menyelaraskan pengalaman peserta di lokasi fisik dan ruang virtual secara real-time membutuhkan ketelitian teknis yang sangat tinggi. Namun, berkat kerja keras tim, semua tantangan teknis tersebut bisa diantisipasi dan teratasi dengan baik.
Melalui momentum suksesnya gelaran ini, Dr. Hj. Yani Kamasturyani menaruh harapan besar bagi seluruh civitas akademika. "Harapan terbesar saya adalah runtuhnya mentalitas lokal (local mindset). Setelah berinteraksi dengan pakar dunia, saya ingin dosen dan peneliti kita semakin percaya diri untuk menembus jurnal internasional. Untuk mahasiswa, saya ingin acara ini memicu global competitiveness (daya saing global) dan menginspirasi mereka untuk melahirkan inovasi yang solutif," pungkasnya.